Skip to main content

follow us


Siapa yang tidak mengetahui Ponari. Nama dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, dulu begitu fenomenal di  ini.Berawal dari main mandi hujan Menurut Ponari, batu ajaib itu ditunggu dua makhluk gaib, laki-laki serta perempuan bernama Rono serta Rani.

Dua makhluk mistik itulah yang selagi ini memberbagi amanat terhadap Ponari untuk membantu orang sakit melewati batu yang ditemukan pertengahan Januari lalu.

Kisah penemuan batu sebesar kepalan tangan anak-anak berwarna coklat kemerahan itu lumayan dramatis serta bernuansa mistis. Ponari dalam ceritanya berbagai waktu lalu mengungkapkan, batu itu ditemukan dengan cara tidak sengaja, yakni saat hujan deras mengguyur desanya.

Sebagaimana bocah-bocah seusianya, Ponari bermain-main di bawah guyuran hujan lebat yang sesekali diiringi suara geledek. Pada saat itu, lanjut Ponari, bersamaan suara petir yang menggelegar, kepalanya semacam dilempar benda keras.

Sejurus kemudian, Ponari merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bersamaan itu, Ponari merasakan ada batu berada di bawah kakinya. Batu tersebut mengeluarkan sinar warna merah. Sebab penasaran, batu itu dibawa pulang serta diletakkan di meja

“Sak niki mboten mesti. Kadang wonten setunggal, kadang sepi (sekarang tidak menentu. Kadang ada satu orang, kadang sepi pasien),” ucap nenek Ponari, Mbok Legi. Setiap tamu yang datang, walau tidak sempat diminta serta dipatok tarif, rata-rata memberbagi uang Rp 20.000.

Mukaromah membicarakan, sejak pasien mulai sepi, saat ini Ponari lebih fokus sekolah. Putra pertamanya itu kembali meneruskan pendidikan yang sempat tertunda 3 tahun lamanya. Kesibukan Ponari menjadi ‘dukun cilik’ membikinnya tidak lulus ujian nasional saat kelas VI SD.

Sebagaimana dilansir dalam website Detik, status Ponari sebagai dukun cilik terbukti merubah nasib Ponari. Seusai dengan cara ekonomi keluarganya naik drastis dari hasil pengobatan Ponari, dukun cilik itu justru enggan ke sekolah, sampai akhirnya tidak mengikuti ujian nasional berbagai waktu lalu.

“Tahun kemarin ikut ujian di program paket A alhamdulillah lulus. Kini melanjutkan lagi ke sekolah Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SMP). Baru kelas satu,” tuturnya.

Saat ditanya tentang materi yang didapatnya dari hasil pengobatan Ponari, keluarga ini mengaku saat itu sempat terkumpul uang Rp 1 miliar lebih dari pasien yang datang. Dengan uang setidak sedikit itu, dirinya sanggup membangun rumah yang sangat layak, membeli 2 bidang sawah seluas 2 hektar, sepeda motor, serta perabotan rumah tangga.

Mukaromah juga menambahkan jika uang yang jumlahnya fantastis bagi orang kampung itu kini telah habis. Kondisi ekonomi keluarganya pun kembali seperti semula. Ibu dua anak ini mengeluhkan biaya sekolah Ponari yang tergolong mahal. Padahal biaya ujian akhir semester itu hanya Rp 250.000. Bahkan, untuk melahirkan putra ke duanya ia mengalami kesulitan keuangan.

Terkait sepinya pasien Ponari saat ini. Mukaromah mempunyai argumen tersendiri sejumlah isu negatif membikin pasien tidak lagi datang ke rumahnya.Keluarga Ponari saat ini menempati rumah lumayan mentereng untuk ukuran desa setempat. Dindingnya terbuat dari tembok dengan cat dominan warna putih, berlantai keramik mengkilap.

Padahal, sebelum melakoni praktek perdukunan rumah Ponari terbuat dari aenjoy bambu dengan lantai tanah.Entah apa yang membikin warga Indonesia terutama sebagian warga Jombang yakin bakal kekuatan batu tersebut.

Yang jelas masyarakat Indonesia banyak kalau mau beroba cari tutorial yang praktis,, salah satunya ya semacam ini,,tidak memakai ilmu medis,, tapi ya telahlah terbukti begitulah kenyataannya

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar